Penerapan Pijat Tuina pada Anak Usia 9-12 Bulan di Posyandu Teratai Desa Talikumain Tambusai
DOI:
https://doi.org/10.31004/ya5dtb98Keywords:
Pijat Tuina, Anak usia 9-12 bulanAbstract
Pelayanan kebidanan komplementer merupakan bagian dari penerapan pengobatan komplementer dan alternatif dalam pelayanan kebidanan. Pelayanan kebidanan komplementer merupakan pilihan bagi bidan untuk mengurangi intervensi yang berlebihan dan merupakan pendamping dari terapi medis. Namun, sebagian besar terapi ini tidak dianggap bermakna dalam pengobatan konvensional. Hal ini disebabkan oleh kelangkaan bukti klinis dan informasi yang diterbitkan sehubungan dengan efektivitas pelayanan kebidanan komplementer pada kehamilan, persalinan nifas dan bayi balita. Mayoritas kegiatan rutin di posyandu ada 5 (lima) kegiatan, yaitu Kesehatan lbu dan Anak (KIA), Keluarga Berencana (KB), imunisasi, gizi, dan penanggulangan diare. Masih terdapat beberapa posyandu yang masih berstatus pratama. Di Tambusai, masih ada beberapa posyandu yang berstatus pratama, ini menjadi tantangan bagi kader posyandu untuk meningkatkan strata menjadi madya, purnama atau bahkan mandiri. Salah satu syarat peningkatan strata Posyandu yaitu adanya program tambahan dan dana sehat. Salah satu program tambahan dalam posyandu balita dengan kegiatan kelas pijat dan senam bayi, dan balita, terutama pada anak usia 9-12 bulan dengan pemberian pijat Tuina untuk mengatasi kesulitasn makan pada anak. Program ini bertujuan untuk mengoptimalkan pelayanan kesehatan balita dengan pemberian terapi komplementer di posyandu. Kegiatan dilaksanakan dengan metode Edukasi asuhan komplementer yaitu pijat Tuina pada anak usia 9-12 bulan dengan metode ceramah, diskusi dan praktik dilanjutkan pendampingan untuk keberlanjutan program. Kegiatan pengabdian masyarakat ini berfokus pada Pelatihan Pada kader posyandu tentang pijat tuina untuk meningkatkan nafsu makan anak usia 9-12 bulan pada fase MPASI.
Kata kunci: Pijat Tuina, Anak usia 9-12 bulan
Downloads
References
Aprillia, Yesie & Brenda Ritchmond. 2011. Gentle Birth “Melahirkan Nyaman Tanpa Rasa Sakit”. Jakarta: Gramedia
Barnes et al. 2008. Complementary and Alternative Medicine Use Among Adults and Children: United States. Journal of National Center for Health Statistics. USA
Koensoemardiyah. 2009. Aromaterapi untuk Kesehatan dan Kecantikan. Yogyakarta: Lily Publisher
Kwan, H.K. 2010. Totok Aura/ Wajah Meridian 312 Cantik, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Moyad M dan Hawks JH. 2009. Complementary and Alternative Therapies, dalam Black JM dan Hawks JH. Medical-Surgical Nursing: Clinical Management for Positive Outcomes (8th Edition). Sl: Elsevier Saunder
Nurkhasanah, S. 2023. Buku Ajar Terapi Komplementer Dalam Praktik Kebidanan. Yogyakarta : Deepublish.
Onyiapat et al. 2011. Complementary and Alternative Medicine Use Among Adults in Enugu, Nigeria. Journal of Nursing: Department of Nurisng Sciences College of Medicine University of Nigeria
Peraturan Menteri Kesehatan RI, No. : 1109/Menkes/Per/IX/2007 tentang penyelenggaraan pengobatan komplementer-alternatif di fasilitas pelayanan kesehatan.
Pamuji, Supriyana, Rahayu. 2014. Pengaruh kombinasi Metode Pijat Woolwich dan Endorphine terhadap Kadar Hormon Prolaktin dan Volume ASI (Studi Pada Ibu Postpartum di Griya Hamil Sehat Mejasem Kabupaten Tegal). Vol 6 N0 1 BHAMADA, TITK
Tournaire M, Theau-Yonneau A. 2007. Complementary and Alternative Approaches to Pain Relief during Labor. Evidence-Based Complement Altern Med
Trionggo, I., dkk., 2013, Panduan Sehat Sembuhkan Penyakit dengan Pijat dan Herbal. Indotoleransi:Yogyakarta
Widaryanti, Rahayu. 2019. Terapi Komplementer Pelayanan Kebidanan Berdasarkan Bukti Scientific dan Empiris. Yogyakarta:Deepublish.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Siti Nurkhasanah, Romy Wahyuny, Masdi Janiarli

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.












